Siang itu, matahari bersinar dengan teriknya, memanggang
bumi dan juga memanggang orang-orang yang sedang berjalan di bawahnya. Panas
ini dirasakan oleh semua orang tak terkecuali juga dirasakan oleh gadis cantik
yang sedang berteduh dibawah pohon dan duduk di kursi taman yang ditemani
bunga-bunga cantik berwarna-warni yang seakan tidak terasa kepanasan meskipun
langsung terkena sinar matahari. Dia adalah Aira cewek yang sedang membaca
novel dengan seriusnya. Kuliah sudah berlalu sekitar 30 menit yang lalu,
seperti biasanya Aira selalu mampir ke taman hanya untuk sekedar membaca novel
kesukaannya. Aira memilih Sastra Bahasa Indonesia, mungkin dia memlih jurusan
itu karena dia suka membaca dan menulis.
Selain suka membaca novel, gadis cantik yang suka memakai
T-shirt dan celana jeans-nya kalau ke kampus, dia juga punya beberapa hobi yang
lain. Hobi yang lainnya adalah biasa melakukan olahraga-olahraga yang biasa
dilakukan oleh cowok. Mungkin orang-orang yang hanya melihat Aira dari
penampilannya saja tidak akan percaya kalau dia biasa melakukan olahraga
semacam itu. Meskipun begitu Aira selalu
menjaga penampilannya seperti cewek-cewek yang lainnya, suka berdandan,
shopping, dan pergi ke salon. Banyak teman-teman yang suka berteman sama dia,
katanya si dia itu cewek yang baik dan menyenangkan.
Seakan terbawa cerita dalam bukunya, Aira tidak sadar
kalau sudah lama duduk ditaman dan lupa dia ada pekerjaan paruh waktu hari ini.
Selain pintar Aira anak yang rajin. Dengan bekerja paruh waktu dia bisa mengurangi
beban pembayaran kuliahnya. Meskipun dari keluarga yang berkecukupan dengan
ibunya yang bekerja di kantor dan ayahnya seorang guru SMA, tetap saja Aira
pengin mandiri dengan mencari uang sendiri dan tentunya masih dibantu orang
tuanya sih. Aira tinggal di kost karena jarak rumah dengan fakultasnya sangat
jauh. “ah, bisa telat aku” pikirnya dalam hati. Aira memasukkan bukunya ke
dalam tas dengan tergesa-gesa dan langsung berangkat ke tempat kerjanya.
“telat ya...” canda temannya. Friska adalah salah satu
teman dekat Aira yang juga bekerja di tempat yang sama.
“hust, diam nanti aku ketahuan.” Kata Aira dengan
meletakkan jari telunjukkannya di depan mulut. Friska membalas dengan tersenyum
dan memberikan jempolnya, yang berarti dia setuju untuk diam. Aira dan Friska
bekerja dengan giatnya sehingga tak terasa sudah waktunya untuk pulang.
“aku pulang dulu ya, sampai ketemu besok” Aira
membereskan tempat kerjanya dengan sangat rapi. Dengan menggendong tasnya dia
langsung pulang.
“oke.....” jawab Friska dan teman kerja lainnya.
Sesampainya di rumah Aira langsung masuk kekamarnya, dia
masih kepikiran apa yang sudah dia lihat beberapa hari lalu dan juga masih
mempertanyakan dalam diri sendiri, sebenarnya apa yang terjadi. Melamun dalam
waktu yang cukup lama sehingga dia tidak sadar bahwa sedari tadi handphonenya
berbunyi. Tertuliskan 3 telfon tidak terjawab dan 3 pesan baru.
Badan sudah segar sehabis mandi, merebahkan tubuhnya di
kasur dan langsung tidur. Meskipun jam baru menunjukkan pukul 21.00 wib.
Hari sudah pagi dan alarm pun sudah berdering beberapa
kali tetapi Aira tidak terbangun-bangun. Hari ini adalah jadwal kuliah pagi.
Bunyi alarm yang mungkin sudah berbunyi ke 10 kalinya baru membangunkan Aira. Aira
membuka matanya dan kaget melihat jam sudah menunjukkan angka 7. “hah, jam
07.00......??? bisa telat aku.” Aira bergegas bangun, mandi dan bersiap-siap.
“aduh, gimana si aku ini.... padahal kemarin malam aku
tidur cepat kenapa bisa telat bangun.” Aira mengomel-ngomel sendiri di jalan
sambil berlari.
Lari pagi hari ini terasa berat seakan membawa beban
berpuluh-puluh kilo yang tersangkut di kakinya. Sebenarnya sih sudah terbiasa
lari tetapi hari ini larinya ditambah kecepatannya untuk sampai di tempat
kuliahnya tepat waktu. Jarak kos dengan fakultasnya sekitar 500 m, Aira tidak
naik angkutan umum karena jaraknya tidak terlalu jauh dan untung-untung jalan
sambil olahraga.
Sesampainya dikelas, Aira langsung duduk dan mengatur
nafasnya yang ngos-ngosan habis lari pagi. Tiba-tiba didepan mukanya ada
sebotol minuman dingin yang diletakkan di mejanya. Aira tidak tahu siapa yang
meletakannnya dan tidak memperdulikannya.
“hai, ketemu lagi.” Suara cowok yang Aira yakin pernah
mendengarnya, tapi lupa tidak tahu siapa. “kok nggak jawab.” Cowok itu menyeret
kursi dan duduk di sebelah Aira yang sedang merebahkan kepalanya di meja dan
tidak menghadap cowok itu.
Aira kaget saat membalikkan badannya dan melihat cowok
itu sedang duduk disebelahnya dengan sangat dekat. “hah....” teriaknya, karena
saking terkejutnya dia hampir jatuh dari kursinya. Aira melamun beberapa saat.
“hai...” cowok itu melambaikan tangan didepan mukanya.
Aira tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan
berteriak lagi dengan histerisnya. Kali ini Aira benar-benar jatuh dari
kursinya.
“aww.., ternyata Cuma mimpi kok nyata banget si. aduh
sakit.” Aira berdiri dari lantai karena tadi jatuh dari tempat tidurnya. Langsung
duduk di pinggir tempat tidurnya dan mengambil handphonennya, ternyata baru jam
setengah lima pagi.
“loh, ini telefon kapan. Aku nggak tahu si.” Aira membuka
3 pesan yang ternyata dari temannya.
Pesan pertama :
From : Kayla
To : Aira
Aira, jawab dong. Penting nih.
pesan kedua :
From : Fara
To : Aira
Cepetan datang, kita lagi ngumpul nih.
Aira tidak menghiraukan pesan dari temannya itu dan tersenyum
ketika membaca pesan yang ketiga dari Friska. “Good night, sahabatku yang
cantik, semoga mimpi indah dan jangan lupa besok datang cepat, jangan telat
lagi. Ok....” Aira membalas pesannya Friska.
From : Aira
To : Friska
Good morning, my swetty. Ok deh, nggak bakalan telat lagi
:D
Karena tidak bisa tidur lagi dan kebetulan sudah tanggung untuk tidur lagi
Aira menyiapkan dirinya untuk kuliah hari ini.
Sekolah masih sepi. Baru
beberapa orang yang datang dan berlalu lalang kesana-kemari. Ada yang sedang
mengobrol, tiduran dan ada juga yang hanya sedang mondar-mandir tidak jelas.
Sudah makanan sehari-hari di pagi hari melihat orang-orang yang seperti itu
karena Aira terbiasa datang awal. Saat baru didepan pintu Aira melihat ada
seseorang yang ada dikelasnya karena takut Aira berjalan mundur beberapa
langkah dan mengintip untuk mengetahui lebih jelas siapa yang ada didalamnya.
“dor....” Kayla
mengagetkan Aira yang sedang mengintip dari pintu.
Aira terlonjak kaget.
“apa-apaan sih, ngagetin aku aja.” Menaruh tangan di depan dadanya.
“lagi ngapain sih.”
“kepo” Aira melanjutkan
mengintip dan Kayla yang tidak tahu apa-apa, Cuma ikut-ikutan mengintip.
“itu siapa?” tanya Aira.
“kalau mau tahu buka saja
pintunya.” Jawab Kayla. Tidak berpikir panjang Kayla langsung membuka pintunya
dan langsung masuk. Sedangkan Aira masih bengong melihat Kayla membuka pintu.
“kenapa bengong, ayo masuk.”
“hai. Sudah lama?” sapa
Kayla dengan akrab.
“hem” Jawab cowok itu
dengan singkat. Cowok itu menghadap kepintu, saat yang bersamaan Aira juga
menatap cowok itu. Mereka saling menatap satu sama lain. Seperti ada rasa
keakraban diantara mereka berdua, asyik dengan bayang-bayang sendiri dimana
mereka pernah bertemu. Wajah-wajah yang sudah tak asing lagi.
“hello, ayo masuk.” Kayla
menghampiri Aira, melambaikan tangannya didepan muka Aira yang sedang melamun
dan menggandeng tangannya membawanya masuk.
“Bay, kenalin nih Aira.”
Kayla memperkenalkan Aira kepada Ubay. Ubay adalah cowok yang beberapa hari
lalu ditemui sama Aira.
Mereka berdua kaget, tidak
percaya dengan apa yang terjadi. Sudah sekian lamanya mereka berpisah dan
sekarang bertemu lagi.
Ubay mengulurkan tangan
kepada Aira dan Aira menerima uluran tangannya dengan wajah yang tersipu malu.
Karena saking senang wajahnya sampai memerah seperti udang rebus tetapi
ekspresinya harus disembunyikan agar Kayla apalagi Ubay atau teman yang lainnya
tidak tahu tentang perasaanya.
Pikiran yang terus
membayanginya setiap hari. Hari ini pun terungkap jelas bahwa yang dia temui
beberapa hari lalu di kafe adalah benar teman lamanya yang tinggal di
Australia. Perasaan yang dulu sampai sekarang tidak berubah, Aira tetap masih
mencintai Ubay bahkan berhari-hari setelah kepergiannya ke Australia dia selalu
menunggu tapi akhirnya sia-sia tidak ada hasilnya. Tetapi hari ini Aira seakan
terbang ke langit ke tujuh bertemu lagi dengan cinta pertamanya.
Mereka berdua Kayla dan
Aira duduk ditempatnya masing-masing. Saking senangnya Aira melamun sambil
senyum-senyum sendiri, tidak mendengarkan
ocehan Kayla yang sedang memarahinya karena kemarin malam tidak ikut kumpul
bersama.
Aira pulang dan langsung
masuk ke kamarnya, membuka diary nya yang selalu menjadi teman atau tempat
curhat Aira disaat senang maupun sedih. Membaca kembali catatan-catatan yang
dulu sambil mengingat-ingat kenangan dulu. Aira mulai menggoreskan pena dengan
coretan-coretan dikertasnya
Dear diary,
Percaya dengan perkataan orang-orang yang dulu memotivasi
aku saat aku mulai rapuh dan berputus asa. Sekarang hidupku akan kembali,
hidupku akan menjadi kenangan indah yang selama ini hilang terbawa angin laut
dan tak berbekas hanya debu-debu kecil yang membuat sakit saat tertiup mengenai
mata. Semoga perasaan ini akan terus ada dan kau mengetahuinya.
Aira menutup bukunya setelah selesai menulisnya. “semoga
harapan ku tak sia-sia” kata Aira dalam hati. Memegang bukunya sampai terbawa
tidur.
Hari-hari dilalui Aira
dengan senyum bahagia. Hubungsn Aira dan Ubay makin dekat meskipun belum ada
yang tahu tentang perasaan masing-masing. Pergi bersama, mengerjakan tugas
bersama, semua dilakukan bersama. Hidupnya pun berubah seratus persen. Aira
yang jarang dandan, selalu menyendiri di taman dengan novelnya kini berbeda. Sampai
suatu hari dimana Ubay yang sudah tidak lagi dekat dengan Aira.
“dimana si Ubay kenapa
nggak datang-datang.” Kata Aira sambil melihat jam tangannya. Aira ada janji
sama Ubay untuk makan malam di sebuah restoran mewah hari ini dan bertemu di
taman yang biasa Aira datangi. Sudah 2 jam lebih Aira menunggu Ubay di taman.
“hai, sudah lama? Maaf ya
aku telat. Habisnya ini si Kayla lama banget dandannya, mampir kesalon lagi.”
Kata Ubay.
Mendengar kata Kayla, Aira
kaget dan mendongakkan kepala yang sedari tadi saat Ubay datang kepala Aira
menghadap kebawah. “hah, Kayla bareng sama Ubay. Apa maksudnya ini?” bicaranya
dalam hati. Aira menatap Ubay dan Kayla dengan tatapan yang curiga..
“udah ayo ah jalan, sudah
laper nih. Teman-teman juga sudah menunggu.” Kata Kayla dengan mengipas-ngipaskan
tangannnya karena kepanasan.
“oh, iya.” Jawab Aira saat
tersadar dari lamunannya.
Mereka bertiga naik mobil.
Ubay yang membawa mobilnya dengan Kayla yang duduk disampingnya dan Aira duduk
di belakang sendiri. Lagi-lagi Aira melamun, sementara itu Ubay dan Kayla
bermesra-mesraan di depan tidak menghiraukan ada Aira di dalam mobil itu.
Sesampainya di sana Ubay
memparkirkan mobilnya. Memasuki retoran yang mewah, disambut dengan alunan
musik yang indah. Sudah banyak orang yang kumpul, ternyata Kayla dan Ubay sudah
menyewa restoran ini untuk acara mereka berdua tetapi tidak memberitahukan Aira
terlebih dahulu.
Aira berhenti di meja
belakang sementara Ubay dan Kayla menyapa teman-temannya yang sudah datang
lebih awal. Sesosok wanita cantik dengan gaun putih yang anggun mendekati Aira
yang sendirian.
“kenapa sendirian, yuk
gabung sama temen-temen yang lain di depan” ajak Friska.
“iya nanti, lagi kepengin
duduk aja disini.” Jawab Aira bohong.
“di depan juga ada kursi.”
Friska menggandeng tangan Aira. Meski sudah digandeng tetapi Aira tetap saja
tidak mau berdiri.
“iya nanti”
“kok lemes banget, kamu
sakit ya...?” tangan Friska memegang dahi Aira. “enggak demam, ya udah nanti
kamu nyusul yah aku mau menghampiri Kayla dan Ubay.”
Aira hanya mengangguk
mengiyakan. Hati Aira serasa sesak, sebenarnya tidak sanggup melihat Ubay
melamar Kayla tetapi Kayla adalah sahabatnya sehingga Aira tidak enak
meninggalkan acara sahabatnya sendiri.
Acaranya pun dimulai.
Semua tepuk tangan saat Ubay memasukkan cincinnya ke jari manis Kayla. Aira pun
juga tepuk tangan sambil menahan air matanya. Hingga acara pun selesai Aira
masih duduk dibelakang sendiri, teman-teman lainnya tidak menyadari karena
saking bahagianya menghayati acara lamaran ini.
“kenapa hanya aku
satu-satunya yang tidak dikasih tahu tentang semua ini.” Pikir Aira. Sebenarnya
Ubay dan Kayla sudah mau mengasih tahunya dua hari sebelum acaranya.
Dua hari lalu, Aira duduk
di taman seperti biasanya. Di tempat lain Ubay dan Kayla berdebat tentang siapa
yang mau mengasih undangannya ke Aira.
“kamu saja, kamu kan
sahabatnya.” Kata Ubay memberikan undangannya kepada Kayla.
“nggak ah, kamu kan yang
dekat sama Aira. Meskipun aku sahabatnya tapi akhir-akhir ini aku jarang ketemu
sama dia. Kayaknya Aira punya pacar deh, kamu tahu nggak akhir-akhir ini Aira
bahagia banget.” Jawab Kayla dengan menolak undangan yang diberikan Ubay.
“iya mungkin, tapi Aira
sekarang lagi dimana?” Ubay memasukkan undangannya kedalam tas.
“palingan lagi di taman,
coba deh kamu kesana.”
Ubay melajukan mobilnya ke
taman. Dan benar Aira sedang membaca novel di bawah pohon di kursi taman. Aira
serius membaca novelnya sehingga tidak tahu Ubay datang.
“serius amat.” Kata Ubay
sambil duduk.
“oh Ubay, ngapain kamu
kesini.” Jawab Aira kaget dan membetulkan duduknya.
“kepengin saja.” Ubay bohong
karena bingung mau jawab apa.
Mereka berdua sama-sama
diam. Cuma terdengar angin yang berhembus dan ranting-ranting yang saling
bersenggolan. Ubay masih memikirkan kata-kata yang akan diucapkannya, sementara
Aira masih membaca bukunya.
“eh Aira aku mau.” Kata
Ubay.
“oh iya Ubay.” Kata Aira
hampir bebarengan dengan Ubay.
“iya ada apa?” jawab Ubay.
“aku ada kerjaan nih,
nggak apa-apa kan kalau kamu ditinggal.” Kata Aira sambil memasukkan bukunya
kedalam tas. “kalau ada perlu kamu bisa telfon aku saja, dah..” sebenarnya Aira
senang bisa berduaan dengan Ubay di taman dan sedari tadi pun tidak konsentrasi
membaca bukunya. Tapi Aira terpaksa pergi karena sudah waktunya untuk bekerja.
“i..iya” jawab Ubay
terbata-bata. Belum sempat Ubay mengasihkan undangannya tetapi Aira sudah pergi.
Semenjak hari itu, Ubay
dan Kayla jarang ketemu sama Aira. Sehingga undangannya pun tidak sempat
dikasih dan Ubay hanya bisa buat janji sama Aira untuk datang kerestoran,
bertemu di taman tapi terlebh dahulu, Ubay lupa tidak mengasih tahu bahwa Ubay
dan Kayla mau lamaran.
Semua teman memberi
selamat kepada Ubay dan Kayla tak terkecuali juga Aira. Acara selesai semua
tamu undangan satu persatu meninggalkan restoran. Aira keluar ruangan lebih
awal.
Dikamar kost Aira
menangis, air mata yang dari tadi tertahan kini keluar semua. Kini Aira tahu
bahwa dari dulu Ubay bukan ingin mendekati Aira tapi diam-diam mendekati Kayla
sahabatnya sendiri.
Harapan tinggal harapan
Aira kini hanya bisa menyimpan perasaannya sendiri. Selama ini tidak ada yang
tahu bahwa Aira suka sama Ubay. Aira hanya bisa menerima semua kenyataannya,
harus bisa menghilangkan perasaannya yang selama ini sudah disimpannya rapi-rapi
selama bertahun-tahun di dalam hati. Semua rasa ini hanyalah tinggal kenangan.
“pedih hati aku saat aku sadari
mencintaimu yang cinta pada dia”
cacatan akhir Aira.