Sabtu, 15 Oktober 2016

DEMI HATI


Siang itu, matahari bersinar dengan teriknya, memanggang bumi dan juga memanggang orang-orang yang sedang berjalan di bawahnya. Panas ini dirasakan oleh semua orang tak terkecuali juga dirasakan oleh gadis cantik yang sedang berteduh dibawah pohon dan duduk di kursi taman yang ditemani bunga-bunga cantik berwarna-warni yang seakan tidak terasa kepanasan meskipun langsung terkena sinar matahari. Dia adalah Aira cewek yang sedang membaca novel dengan seriusnya. Kuliah sudah berlalu sekitar 30 menit yang lalu, seperti biasanya Aira selalu mampir ke taman hanya untuk sekedar membaca novel kesukaannya. Aira memilih Sastra Bahasa Indonesia, mungkin dia memlih jurusan itu karena dia suka membaca dan menulis.
Selain suka membaca novel, gadis cantik yang suka memakai T-shirt dan celana jeans-nya kalau ke kampus, dia juga punya beberapa hobi yang lain. Hobi yang lainnya adalah biasa melakukan olahraga-olahraga yang biasa dilakukan oleh cowok. Mungkin orang-orang yang hanya melihat Aira dari penampilannya saja tidak akan percaya kalau dia biasa melakukan olahraga semacam itu. Meskipun  begitu Aira selalu menjaga penampilannya seperti cewek-cewek yang lainnya, suka berdandan, shopping, dan pergi ke salon. Banyak teman-teman yang suka berteman sama dia, katanya si dia itu cewek yang baik dan menyenangkan.
Seakan terbawa cerita dalam bukunya, Aira tidak sadar kalau sudah lama duduk ditaman dan lupa dia ada pekerjaan paruh waktu hari ini. Selain pintar Aira anak yang rajin. Dengan bekerja paruh waktu dia bisa mengurangi beban pembayaran kuliahnya. Meskipun dari keluarga yang berkecukupan dengan ibunya yang bekerja di kantor dan ayahnya seorang guru SMA, tetap saja Aira pengin mandiri dengan mencari uang sendiri dan tentunya masih dibantu orang tuanya sih. Aira tinggal di kost karena jarak rumah dengan fakultasnya sangat jauh. “ah, bisa telat aku” pikirnya dalam hati. Aira memasukkan bukunya ke dalam tas dengan tergesa-gesa dan langsung berangkat ke tempat kerjanya.
“telat ya...” canda temannya. Friska adalah salah satu teman dekat Aira yang juga bekerja di tempat yang sama.
“hust, diam nanti aku ketahuan.” Kata Aira dengan meletakkan jari telunjukkannya di depan mulut. Friska membalas dengan tersenyum dan memberikan jempolnya, yang berarti dia setuju untuk diam. Aira dan Friska bekerja dengan giatnya sehingga tak terasa sudah waktunya untuk pulang.
“aku pulang dulu ya, sampai ketemu besok” Aira membereskan tempat kerjanya dengan sangat rapi. Dengan menggendong tasnya dia langsung pulang.
“oke.....” jawab Friska dan teman kerja lainnya.
Sesampainya di rumah Aira langsung masuk kekamarnya, dia masih kepikiran apa yang sudah dia lihat beberapa hari lalu dan juga masih mempertanyakan dalam diri sendiri, sebenarnya apa yang terjadi. Melamun dalam waktu yang cukup lama sehingga dia tidak sadar bahwa sedari tadi handphonenya berbunyi. Tertuliskan 3 telfon tidak terjawab dan 3 pesan baru.
Badan sudah segar sehabis mandi, merebahkan tubuhnya di kasur dan langsung tidur. Meskipun jam baru menunjukkan pukul 21.00 wib.
Hari sudah pagi dan alarm pun sudah berdering beberapa kali tetapi Aira tidak terbangun-bangun. Hari ini adalah jadwal kuliah pagi. Bunyi alarm yang mungkin sudah berbunyi ke 10 kalinya baru membangunkan Aira. Aira membuka matanya dan kaget melihat jam sudah menunjukkan angka 7. “hah, jam 07.00......??? bisa telat aku.” Aira bergegas bangun, mandi dan bersiap-siap.
“aduh, gimana si aku ini.... padahal kemarin malam aku tidur cepat kenapa bisa telat bangun.” Aira mengomel-ngomel sendiri di jalan sambil berlari.
Lari pagi hari ini terasa berat seakan membawa beban berpuluh-puluh kilo yang tersangkut di kakinya. Sebenarnya sih sudah terbiasa lari tetapi hari ini larinya ditambah kecepatannya untuk sampai di tempat kuliahnya tepat waktu. Jarak kos dengan fakultasnya sekitar 500 m, Aira tidak naik angkutan umum karena jaraknya tidak terlalu jauh dan untung-untung jalan sambil olahraga.
Sesampainya dikelas, Aira langsung duduk dan mengatur nafasnya yang ngos-ngosan habis lari pagi. Tiba-tiba didepan mukanya ada sebotol minuman dingin yang diletakkan di mejanya. Aira tidak tahu siapa yang meletakannnya dan tidak memperdulikannya.
“hai, ketemu lagi.” Suara cowok yang Aira yakin pernah mendengarnya, tapi lupa tidak tahu siapa. “kok nggak jawab.” Cowok itu menyeret kursi dan duduk di sebelah Aira yang sedang merebahkan kepalanya di meja dan tidak menghadap cowok itu.
Aira kaget saat membalikkan badannya dan melihat cowok itu sedang duduk disebelahnya dengan sangat dekat. “hah....” teriaknya, karena saking terkejutnya dia hampir jatuh dari kursinya. Aira melamun beberapa saat.
“hai...” cowok itu melambaikan tangan didepan mukanya.
Aira tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan berteriak lagi dengan histerisnya. Kali ini Aira benar-benar jatuh dari kursinya.
“aww.., ternyata Cuma mimpi kok nyata banget si. aduh sakit.” Aira berdiri dari lantai karena tadi jatuh dari tempat tidurnya. Langsung duduk di pinggir tempat tidurnya dan mengambil handphonennya, ternyata baru jam setengah lima pagi.
“loh, ini telefon kapan. Aku nggak tahu si.” Aira membuka 3 pesan yang ternyata dari temannya.
Pesan pertama :
From    : Kayla
To        : Aira
Aira, jawab dong. Penting nih.
pesan kedua :
From    : Fara
To        : Aira
Cepetan datang, kita lagi ngumpul nih.
Aira tidak menghiraukan pesan dari temannya itu dan tersenyum ketika membaca pesan yang ketiga dari Friska. “Good night, sahabatku yang cantik, semoga mimpi indah dan jangan lupa besok datang cepat, jangan telat lagi. Ok....” Aira membalas pesannya Friska.
From    : Aira
To        : Friska
Good morning, my swetty. Ok deh, nggak bakalan telat lagi :D
Karena tidak bisa tidur lagi dan kebetulan sudah tanggung untuk tidur lagi Aira menyiapkan dirinya untuk kuliah hari ini.
            Sekolah masih sepi. Baru beberapa orang yang datang dan berlalu lalang kesana-kemari. Ada yang sedang mengobrol, tiduran dan ada juga yang hanya sedang mondar-mandir tidak jelas. Sudah makanan sehari-hari di pagi hari melihat orang-orang yang seperti itu karena Aira terbiasa datang awal. Saat baru didepan pintu Aira melihat ada seseorang yang ada dikelasnya karena takut Aira berjalan mundur beberapa langkah dan mengintip untuk mengetahui lebih jelas siapa yang ada didalamnya.
            “dor....” Kayla mengagetkan Aira yang sedang mengintip dari pintu.
            Aira terlonjak kaget. “apa-apaan sih, ngagetin aku aja.” Menaruh tangan di depan dadanya.
            “lagi ngapain sih.”
            “kepo” Aira melanjutkan mengintip dan Kayla yang tidak tahu apa-apa, Cuma ikut-ikutan mengintip.
            “itu siapa?” tanya Aira.
            “kalau mau tahu buka saja pintunya.” Jawab Kayla. Tidak berpikir panjang Kayla langsung membuka pintunya dan langsung masuk. Sedangkan Aira masih bengong melihat Kayla membuka pintu. “kenapa bengong, ayo masuk.”
            “hai. Sudah lama?” sapa Kayla dengan akrab.
            “hem” Jawab cowok itu dengan singkat. Cowok itu menghadap kepintu, saat yang bersamaan Aira juga menatap cowok itu. Mereka saling menatap satu sama lain. Seperti ada rasa keakraban diantara mereka berdua, asyik dengan bayang-bayang sendiri dimana mereka pernah bertemu. Wajah-wajah yang sudah tak asing lagi.
            “hello, ayo masuk.” Kayla menghampiri Aira, melambaikan tangannya didepan muka Aira yang sedang melamun dan menggandeng tangannya membawanya masuk.
            “Bay, kenalin nih Aira.” Kayla memperkenalkan Aira kepada Ubay. Ubay adalah cowok yang beberapa hari lalu ditemui sama Aira.
            Mereka berdua kaget, tidak percaya dengan apa yang terjadi. Sudah sekian lamanya mereka berpisah dan sekarang bertemu lagi.
            Ubay mengulurkan tangan kepada Aira dan Aira menerima uluran tangannya dengan wajah yang tersipu malu. Karena saking senang wajahnya sampai memerah seperti udang rebus tetapi ekspresinya harus disembunyikan agar Kayla apalagi Ubay atau teman yang lainnya tidak tahu tentang perasaanya.
            Pikiran yang terus membayanginya setiap hari. Hari ini pun terungkap jelas bahwa yang dia temui beberapa hari lalu di kafe adalah benar teman lamanya yang tinggal di Australia. Perasaan yang dulu sampai sekarang tidak berubah, Aira tetap masih mencintai Ubay bahkan berhari-hari setelah kepergiannya ke Australia dia selalu menunggu tapi akhirnya sia-sia tidak ada hasilnya. Tetapi hari ini Aira seakan terbang ke langit ke tujuh bertemu lagi dengan cinta pertamanya.
            Mereka berdua Kayla dan Aira duduk ditempatnya masing-masing. Saking senangnya Aira melamun sambil senyum-senyum sendiri, tidak  mendengarkan ocehan Kayla yang sedang memarahinya karena kemarin malam tidak ikut kumpul bersama.
            Aira pulang dan langsung masuk ke kamarnya, membuka diary nya yang selalu menjadi teman atau tempat curhat Aira disaat senang maupun sedih. Membaca kembali catatan-catatan yang dulu sambil mengingat-ingat kenangan dulu. Aira mulai menggoreskan pena dengan coretan-coretan dikertasnya
Dear diary,
Percaya dengan perkataan orang-orang yang dulu memotivasi aku saat aku mulai rapuh dan berputus asa. Sekarang hidupku akan kembali, hidupku akan menjadi kenangan indah yang selama ini hilang terbawa angin laut dan tak berbekas hanya debu-debu kecil yang membuat sakit saat tertiup mengenai mata. Semoga perasaan ini akan terus ada dan kau mengetahuinya.
            Aira menutup bukunya setelah selesai menulisnya. “semoga harapan ku tak sia-sia” kata Aira dalam hati. Memegang bukunya sampai terbawa tidur.
            Hari-hari dilalui Aira dengan senyum bahagia. Hubungsn Aira dan Ubay makin dekat meskipun belum ada yang tahu tentang perasaan masing-masing. Pergi bersama, mengerjakan tugas bersama, semua dilakukan bersama. Hidupnya pun berubah seratus persen. Aira yang jarang dandan, selalu menyendiri di taman dengan novelnya kini berbeda. Sampai suatu hari dimana Ubay yang sudah tidak lagi  dekat dengan Aira.
            “dimana si Ubay kenapa nggak datang-datang.” Kata Aira sambil melihat jam tangannya. Aira ada janji sama Ubay untuk makan malam di sebuah restoran mewah hari ini dan bertemu di taman yang biasa Aira datangi. Sudah 2 jam lebih Aira menunggu Ubay di taman.
            “hai, sudah lama? Maaf ya aku telat. Habisnya ini si Kayla lama banget dandannya, mampir kesalon lagi.” Kata Ubay.
            Mendengar kata Kayla, Aira kaget dan mendongakkan kepala yang sedari tadi saat Ubay datang kepala Aira menghadap kebawah. “hah, Kayla bareng sama Ubay. Apa maksudnya ini?” bicaranya dalam hati. Aira menatap Ubay dan Kayla dengan tatapan yang curiga..
            “udah ayo ah jalan, sudah laper nih. Teman-teman juga sudah menunggu.” Kata Kayla dengan mengipas-ngipaskan tangannnya karena kepanasan.
            “oh, iya.” Jawab Aira saat tersadar dari lamunannya.
            Mereka bertiga naik mobil. Ubay yang membawa mobilnya dengan Kayla yang duduk disampingnya dan Aira duduk di belakang sendiri. Lagi-lagi Aira melamun, sementara itu Ubay dan Kayla bermesra-mesraan di depan tidak menghiraukan ada Aira di dalam mobil itu.
            Sesampainya di sana Ubay memparkirkan mobilnya. Memasuki retoran yang mewah, disambut dengan alunan musik yang indah. Sudah banyak orang yang kumpul, ternyata Kayla dan Ubay sudah menyewa restoran ini untuk acara mereka berdua tetapi tidak memberitahukan Aira terlebih dahulu.
            Aira berhenti di meja belakang sementara Ubay dan Kayla menyapa teman-temannya yang sudah datang lebih awal. Sesosok wanita cantik dengan gaun putih yang anggun mendekati Aira yang sendirian.
            “kenapa sendirian, yuk gabung sama temen-temen yang lain di depan” ajak Friska.
            “iya nanti, lagi kepengin duduk aja disini.” Jawab Aira bohong.
            “di depan juga ada kursi.” Friska menggandeng tangan Aira. Meski sudah digandeng tetapi Aira tetap saja tidak mau berdiri.
            “iya nanti”
            “kok lemes banget, kamu sakit ya...?” tangan Friska memegang dahi Aira. “enggak demam, ya udah nanti kamu nyusul yah aku mau menghampiri Kayla dan Ubay.”
            Aira hanya mengangguk mengiyakan. Hati Aira serasa sesak, sebenarnya tidak sanggup melihat Ubay melamar Kayla tetapi Kayla adalah sahabatnya sehingga Aira tidak enak meninggalkan acara sahabatnya sendiri.
            Acaranya pun dimulai. Semua tepuk tangan saat Ubay memasukkan cincinnya ke jari manis Kayla. Aira pun juga tepuk tangan sambil menahan air matanya. Hingga acara pun selesai Aira masih duduk dibelakang sendiri, teman-teman lainnya tidak menyadari karena saking bahagianya menghayati acara lamaran ini.
            “kenapa hanya aku satu-satunya yang tidak dikasih tahu tentang semua ini.” Pikir Aira. Sebenarnya Ubay dan Kayla sudah mau mengasih tahunya dua hari sebelum acaranya.
            Dua hari lalu, Aira duduk di taman seperti biasanya. Di tempat lain Ubay dan Kayla berdebat tentang siapa yang mau mengasih undangannya ke Aira.
            “kamu saja, kamu kan sahabatnya.” Kata Ubay memberikan undangannya kepada Kayla.
            “nggak ah, kamu kan yang dekat sama Aira. Meskipun aku sahabatnya tapi akhir-akhir ini aku jarang ketemu sama dia. Kayaknya Aira punya pacar deh, kamu tahu nggak akhir-akhir ini Aira bahagia banget.” Jawab Kayla dengan menolak undangan yang diberikan Ubay.
            “iya mungkin, tapi Aira sekarang lagi dimana?” Ubay memasukkan undangannya kedalam tas.
            “palingan lagi di taman, coba deh kamu kesana.”
            Ubay melajukan mobilnya ke taman. Dan benar Aira sedang membaca novel di bawah pohon di kursi taman. Aira serius membaca novelnya sehingga tidak tahu Ubay datang.
            “serius amat.” Kata Ubay sambil duduk.
            “oh Ubay, ngapain kamu kesini.” Jawab Aira kaget dan membetulkan duduknya.
            “kepengin saja.” Ubay bohong karena bingung mau jawab apa.
            Mereka berdua sama-sama diam. Cuma terdengar angin yang berhembus dan ranting-ranting yang saling bersenggolan. Ubay masih memikirkan kata-kata yang akan diucapkannya, sementara Aira masih membaca bukunya.
            “eh Aira aku mau.” Kata Ubay.
            “oh iya Ubay.” Kata Aira hampir bebarengan dengan Ubay.
            “iya ada apa?” jawab Ubay.
            “aku ada kerjaan nih, nggak apa-apa kan kalau kamu ditinggal.” Kata Aira sambil memasukkan bukunya kedalam tas. “kalau ada perlu kamu bisa telfon aku saja, dah..” sebenarnya Aira senang bisa berduaan dengan Ubay di taman dan sedari tadi pun tidak konsentrasi membaca bukunya. Tapi Aira terpaksa pergi karena sudah waktunya untuk bekerja.
            “i..iya” jawab Ubay terbata-bata. Belum sempat Ubay mengasihkan undangannya  tetapi Aira sudah pergi.
            Semenjak hari itu, Ubay dan Kayla jarang ketemu sama Aira. Sehingga undangannya pun tidak sempat dikasih dan Ubay hanya bisa buat janji sama Aira untuk datang kerestoran, bertemu di taman tapi terlebh dahulu, Ubay lupa tidak mengasih tahu bahwa Ubay dan Kayla mau lamaran.
            Semua teman memberi selamat kepada Ubay dan Kayla tak terkecuali juga Aira. Acara selesai semua tamu undangan satu persatu meninggalkan restoran. Aira keluar ruangan lebih awal.
            Dikamar kost Aira menangis, air mata yang dari tadi tertahan kini keluar semua. Kini Aira tahu bahwa dari dulu Ubay bukan ingin mendekati Aira tapi diam-diam mendekati Kayla sahabatnya sendiri.
            Harapan tinggal harapan Aira kini hanya bisa menyimpan perasaannya sendiri. Selama ini tidak ada yang tahu bahwa Aira suka sama Ubay. Aira hanya bisa menerima semua kenyataannya, harus bisa menghilangkan perasaannya yang selama ini sudah disimpannya rapi-rapi selama bertahun-tahun di dalam hati. Semua rasa ini hanyalah tinggal kenangan.
            “pedih hati aku saat aku sadari mencintaimu yang cinta pada dia” 

cacatan akhir Aira.